Jumat, 06 Februari 2015
Pahitnya Hidup di Kamp Kerja Paksa Korut
Seorang perempuan mantan tahanan di kamp kerja paksa Korea Utara (Korut) menuturkan pahitnya hidup dalam tekanan di sana.
“Semua tahanan dalam kondisi lapar, bahkan kami memakan serangga yang lewat agar bisa makan,” ujar Ji-hyun Park, seorang mantan tahanan Korut tersebut, seperti dilansir Daily Mail, Jumat (6/2/2015).
Park merasakan hukuman selama setahun di dalam kamp kerja paksa. Kini, dia dalam perlindungan Amnesti Internasional.
Park ditahan karena mencoba lari dari Korut menuju China. Ia pun menyogok petugas imigrasi di Korut dan China, lalu dipaksa menikah dengan seorang pria dengan mas kawin sebesar 5.000 yuan atau setara Rp10 juta.
Park menolak menikah sehingga ia dilaporkan ke petugas Kepolisian China. Polisi pun mendeportasinya kembali ke Korut hingga mendekam di tahanan.
“Kami harus dibangunkan pukul 04.00 dengan cara yang kasar. Kami lalu disuruh bekerja hingga pukul 21.00,” ungkap Park.
“Saya masih merinding jika mengingat kejadian itu. Saya melihat banyak tahanan yang meninggal di sekitar saya dan menangis karena penderitaan serta kelaparan,” tambahnya.
Saat ini Park tinggal di Kota Manchester, Inggris. Ia berhasil melarikan diri dari kamp tahanan, namun enggan menungkapkan kenapa bisa lari. Itu dilakukan untuk keselamatan dirinya. (Okezone)
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar